Setelah Bertahun-tahun, Saya Kembali Menulis
Blog ini sebenarnya sudah lama ada. Saya pertama kali menulis di sini saat masih remaja. Waktu itu isinya masih berantakan, ditulis dengan semangat yang lebih besar daripada kemampuan. Lalu hidup berjalan, kesibukan datang, dan blog ini saya tinggalkan begitu saja.
Sekarang saya berusia 24 tahun, dan entah kenapa rasanya pas untuk kembali menulis. Bukan karena saya tiba-tiba menjadi ahli, tetapi karena akhirnya saya punya sesuatu yang dulu belum saya miliki: pengalaman nyata.
Pengalaman gagal, mengulang, salah memilih jalan, lalu perlahan menemukan cara yang lebih tepat.
Tulisan ini saya buat untuk versi diri saya yang dulu. Orang yang ingin belajar Teknik Informatika tetapi bingung harus mulai dari mana.
Perjalanan Saya Sebelum Kuliah
Saya tidak langsung kuliah setelah lulus sekolah. Saya mengambil gap year selama tiga tahun.
Selama itu saya bekerja. Saya juga sempat menjalankan agensi kreatif kecil bersama beberapa teman. Dari sanalah saya pertama kali bersentuhan dengan dunia web development.
Awalnya bukan karena hobi, melainkan karena keadaan. Ada klien yang membutuhkan website, sementara tidak ada orang lain yang bisa mengerjakannya selain saya.
Saya tidak akan bilang itu pilihan yang ideal.
Ada masa ketika saya merasa tertinggal dibanding teman-teman yang sudah lebih dulu kuliah. Namun, tiga tahun tersebut memberi saya sesuatu yang sulit didapatkan di ruang kelas, yaitu pemahaman mengapa kemampuan ini benar-benar dibutuhkan di dunia kerja.
Awalnya Saya Belajar Teknik Informatika dari Internet
Sebelum mengenal bangku kuliah, guru saya adalah kolom pencarian Google.
Saya sering mencari hal-hal seperti:
Apa itu algoritma?
Cara membuat website.
Belajar HTML untuk pemula.
Belajar JavaScript.
Sedikit demi sedikit saya mulai mengenal:
Algoritma, meskipun saat itu saya masih sekadar menghafal pola.
HTML, sebagai kerangka sebuah website.
CSS, untuk mengatur tampilan.
JavaScript, agar website menjadi interaktif.
Database, tempat menyimpan dan mengambil data.
Cara belajar seperti ini memang bisa membuat kita menghasilkan sesuatu.
Saya bahkan sudah bisa membuat website yang berjalan.
Namun, ada satu kekurangan besar yang baru saya sadari belakangan.
Saya tahu cara membuatnya, tetapi belum memahami mengapa harus dibuat seperti itu.
Dan kekurangan itulah yang akhirnya mendorong saya memutuskan untuk kuliah.
Kenapa Saya Akhirnya Memutuskan Kuliah
Saya ingin jujur.
Alasan utama saya kuliah bukan karena mengejar ijazah.
Saat itu saya sudah bekerja dan memiliki pemasukan sendiri.
Yang saya cari adalah pemahaman yang lebih utuh terhadap hal-hal yang selama ini saya gunakan tanpa benar-benar mengerti konsepnya.
Misalnya:
Logika, sebagai dasar semua keputusan dalam program.
Algoritma, untuk menyusun langkah penyelesaian masalah.
Struktur data, agar data dapat dikelola secara efisien.
Database, bukan sekadar tempat menyimpan data, tetapi bagaimana merancangnya dengan baik.
Networking, memahami bagaimana komputer saling berkomunikasi.
Belajar secara otodidak membuat saya mampu membangun sesuatu.
Namun saya ingin memahami pondasinya, bukan hanya tahu cara menyusun batu batanya.
AI Membuat Belajar Lebih Cepat
Belajar Teknik Informatika sekarang jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Kehadiran AI membuat proses belajar menjadi jauh lebih cepat, dan saya sendiri menggunakannya hampir setiap hari.
Tetapi ada satu hal yang menurut saya penting.
AI bukan pengganti belajar.
Saya sering mengibaratkannya seperti kalkulator.
Kalkulator memang mempercepat proses menghitung. Namun jika kita tidak memahami konsep perkalian atau pembagian, kita juga tidak tahu apakah hasil yang muncul sudah benar atau justru keliru.
AI juga seperti itu.
Kalau kita tidak memahami konsep dasarnya, kita tidak akan bisa menilai apakah jawaban AI benar, setengah benar, atau justru salah tetapi terdengar meyakinkan.
Karena itulah, menurut saya fundamental justru menjadi semakin penting di era AI.
Apa yang Sebaiknya Dipelajari Pemula?
Kalau saya bisa kembali ke masa lalu dan menyusun ulang urutan belajar, saya akan memulainya seperti ini.
Logika berpikir.
Algoritma.
HTML.
CSS.
JavaScript.
Database.
Git.
Laravel.
AI sebagai alat bantu.
Urutan ini tentu bukan aturan mutlak.
Namun pola belajarnya sederhana.
Pahami konsep terlebih dahulu, baru gunakan alatnya.
Banyak pemula, termasuk saya dulu, langsung melompat ke framework karena terlihat keren.
Akibatnya, ketika menemukan masalah yang tidak ada di tutorial, mereka langsung berhenti karena tidak memahami dasar-dasarnya.
Penutup
Kalau kamu sedang belajar Teknik Informatika untuk pemula, ada satu hal yang ingin saya sampaikan.
Jangan takut terlambat.
Saya sendiri baru kuliah setelah menjalani gap year selama tiga tahun.
Pernah merasa tertinggal.
Pernah merasa salah mengambil keputusan.
Namun sekarang, ketika sudah berada di semester 6, saya justru bersyukur pernah melalui proses tersebut.
Yang menentukan bukan siapa yang memulai lebih cepat.
Yang menentukan adalah siapa yang terus belajar dan konsisten.
Mulailah dari hal-hal kecil.
Pahami konsepnya.
Bangun pondasi yang kuat.
Karena ketika pondasinya kuat, teknologi apa pun yang muncul nantinya akan jauh lebih mudah dipelajari.
Baca Juga
Kalau kamu penasaran berapa biaya kuliah Teknik Informatika yang saya keluarkan setiap bulan sambil bekerja, kamu bisa membaca artikel berikut:
👉 Biaya Jurusan Teknik Informatika: Pengalaman Kuliah Sambil Kerja
No comments:
Post a Comment